Editor sebuah surat isu di Togo dicokok pada Kamis (28/3/2024) malam dan menghadapi tujuh dakwaan termasuk menerbitkan informasi palsu, berdasarkan pengacaranya.
Penangkapan hal yang demikian beriringan dengan peringatan dari institusi pengawas media, berhubungan perbuatan keras terhadap pers memasuki pemilu akan datang di Togo, dikutip dari web VOA Indonesia, Sabtu (30/3)
Apollinaire Mewenemesse, editor di surat isu La Depeche, sudah dibendung oleh pasukan keamanan semenjak Selasa (26/3), dalam kaitannya dengan sebuah tulisan yang dipublikasikan bulan lalu. Tulisan hal yang demikian mempertanyakan vonis kepada seorang jenderal dalam kasus penghilangan nyawa orang lain seorang penyokong Presiden Faure Gnassingbe.
Mewenemesse (71) masuk ke mahjong slot penjara sore ini, kata pengacaranya, Me Darius Kokou Atsoo.
Ia sudah didakwa dengan “publikasi informasi palsu dengan tujuan untuk menghasut masyarakat atau member militer supaya bangkit melawan negara,” dan sebagian dakwaan melanggar hukum lain.
Penangkapan hal yang demikian terjadi dikala negara di Afrika Barat itu tengah menghadapi krisis politik kurang dari sebulan sebelum pemilihan legislatif digelar.
Pada Senin (25/3), parlemen mengadopsi sebuah konstitusi baru dengan kesepakatan bunyi hampir bulat, yang mengakhiri pemilu dalam memilih pemimpin negara hal yang demikian. Sebaliknya, presiden dikala ini akan dipilih oleh member parlemen “tanpa pro kontra.”
Para kritikus kuatir reformasi itu, yang diusulkan oleh partai yang berkuasa, akan memungkinkan Gnassingbe untuk konsisten berada di kekuasaan tanpa batas, padahal belum terang kapan perubahan ini akan diaplikasikan.
Pada 2005, Gnassingbe menggantikan ayahnya, Jenderal Gnassingbe Eyadema, yang merebut kekuasaan melewati kudeta lebih dari 50 tahun yang lalu.
Organisasi Pengamat Media: Ada Tekanan pada Jurnalis Jelang Pemilu
Organisasi pengamat media, Reporters Without Borders (RSF) mengatakan, penangkapan Mewenemesse memperlihatkan peningkatan tekanan kepada media memasuki pemilu legislatif pada 20 April.
Sadibou Marong, direktur RSF kawasan sub-Sahara Afrika, mendesak pembebasan jurnalis ini “tanpa ditunda.”
Sementara Togo mempunyai lanskap media yang dinamis dan kebebasan pers yang dilindungi oleh undang-undang, keselamatan jurnalis konsisten menjadi kekhawatiran utama, secara khusus bagi mereka yang mengkritik pemerintah, berdasarkan RSF.
Organisasi hal yang demikian menempatkan Togo pada peringkat 70 dari 180 negara dalam indeks kebebasan pers terkini mereka.
Surat isu Mewenemesse, La Depeche, ditangguhkan selama tiga bulan pada 4 Maret sebab tulisan yang dirilis pada 28 Februari, yang mempertanyakan sanksi pengadilan kepada panglima militer Jenderal Abalo Kadangha, berdasarkan Komite Perlindungan Jurnalis.
Kadangha dijatuhi sanksi 20 tahun penjara atas penghilangan nyawa orang lain Letnan Kolonel Bitala Madjoulba, seorang penyokong loyal Gnassingbe yang ditemukan tewas sehari sesudah pelantikan tahun 2020.
Tulisan hal yang demikian memperbandingkan kasus Kadangha dengan kasus kapten tentara Yahudi Prancis, Alfred Dreyfus, yang dihukum meski tak bersalah pada akhir abad ke-19.